Raja Sabu “Songket” Runtuh di Warung Bakso: 14 Kg Sabu dan Dua Buronan yang Dikejar
I News Aceh- Sebuah operasi intelijen yang digelembungkan selama berbulan-bulan akhirnya berbuah manis bagi aparat penegak hukum. Muhammad Darwin, seorang kurir narkoba yang berjuluk Songket, harus berakhir di balik jeruji besi. Pria yang diduga sebagai “kuda pengangkut” utama jaringan narkoba internasional itu ditangkap dalam sebuah operasi penggerebekan yang dramatis, tepat di depan sebuah warung bakso di Jalan Banda Aceh-Medan, Alue Pineung, Kota Langsa, Aceh Timur.

Baca Juga : Gerakan World Clean-up Day Aceh Kumpulkan 195 Kg Sampah Daur Ulang dalam Dua Bulan
Barang bukti yang berhasil diamankan bukanlah jumlah sembarangan. Darwin digulung polisi dengan membawa serta 14 kilogram sabu-sabu yang dikemas dalam 14 bungkus plastik terpisah, sebuah jumlah yang merusak ribuan generasi muda Aceh. Nilai pasarnya diperkirakan mencapai miliaran rupiah.
Operasi Intelijen dari Laut ke Darat
Brigjen Pol. Eko Hadi Santoso, Dirtipidnarkoba Bareskrim Polri, dalam konferensi persnya, membeberkan bahwa operasi ini berawal dari informasi warga yang waspada. Masyarakat melaporkan adanya peredaran gelap sabu dan ekstasi yang diselundupkan dari Malaysia melalui jalur laut, memanfaatkan perairan Aceh yang luas dan sulit diawasi.
Informasi berharga ini segera ditindaklanjuti secara serius oleh Satgas Narcotics Investigation Center (NIC) Bareskrim Polri, yang lantas berkoordinasi dengan Subdit IV Narkoba Bareskrim, Polres Langsa, dan Bea Cukai. Jejak penyelidikan akhirnya mengerucut pada sosok Muhammad Darwin alias Songket.
Penangkapan Dramatis dan Pengakuan Pelaku
Tim penyidik kemudian menyergap Darwin yang saat itu sedang berada di dekat kendaraannya, sebuah mobil Mitsubishi L300 hitam bernopol BL-8370-DO, yang juga turut disita sebagai barang bukti. Satu unit ponsel juga diamankan untuk dilacak komunikasinya.
Di bawah tekanan pemeriksaan, Darwin membuka mulut. Ia mengaku hanya sebagai bagian dari mata rantai bawah. Tugasnya adalah menjemput dan mengangkut barang haram tersebut. Ia mengklaim hanya menjalankan perintah dari seorang bandar yang ia sebut dengan nama Baka. Darwin ditugaskan untuk mengambil sabu-sabu tersebut di wilayah Aceh Tamiang dari seorang pemasok yang dikenal dengan panggilan Wak Yung.
Buron yang Masih Diburu, Jaringan yang Masih Diselong
Kedua nama yang disebut Darwin, Baka dan Wak Yung, kini menjadi buruan utama polisi. Keduanya diduga sebagai otak yang mengendalikan jaringan dari belakang layar dan saat ini masih dalam daftar buron (Daftar Pencarian Orang).
Brigjen Eko menegaskan bahwa penangkapan ini bukanlah titik akhir. “Langkah selanjutnya adalah mengejar para tersangka lain yang masih buron, mengembangkan investigasi hingga ke akar-akarnya, dan melakukan penyidikan secara tuntas untuk membongkar seluruh jaringan sindikat narkoba ini dari hulu ke hilir,” tegasnya.
Operasi ini menjadi pesan keras bahwa jalur laut Aceh bukanlah pintu masuk yang aman bagi para pengedar narkoba. Kolaborasi antara polisi, bea cukai, dan yang terpenting, kewaspadaan masyarakat, terbukti menjadi senjata ampuh dalam memutus mata rantai peredaran narkoba yang merusak tersebut.











