INews Aceh — Kondisi kelistrikan di Aceh kembali menjadi sorotan publik. Di tengah berbagai keluhan masyarakat mengenai seringnya pemadaman listrik, pernyataan Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia terkait keandalan listrik di Aceh justru menuai reaksi beragam dan menjadi bahan perbincangan hangat, baik di lapangan maupun di media sosial.
Pemadaman Masih Terjadi, Warga Kesal
Dalam beberapa pekan terakhir, warga di sejumlah kabupaten/kota di Aceh mengeluhkan gangguan listrik yang terjadi berulang kali, baik dalam durasi singkat maupun pemadaman total beberapa jam. Daerah yang paling banyak terdampak antara lain Kota Banda Aceh, Aceh Besar, Aceh Utara, Lhokseumawe, Aceh Barat, serta sebagian wilayah Aceh Tamiang.
Keluhan warga paling banyak terkait:
-
Pemadaman tanpa pemberitahuan
-
Tegangan listrik tidak stabil
-
Dampak pada usaha kecil seperti toko kue, bengkel, hingga percetakan
-
Kerusakan alat elektronik
“Kalau listrik padam terus begini, bagaimana kami bisa kerja? Ini sudah lebih dari lima kali minggu ini,” ujar Rizal, seorang pelaku usaha kecil di Aceh Besar.
Klaim Bahlil Tuai Kritik Publik
Kontroversi muncul setelah Menteri Investasi Bahlil Lahadalia dalam sebuah kesempatan menyampaikan bahwa kondisi listrik di Aceh dinilai cukup baik dan mendukung investasi. Pernyataan ini dianggap berbanding terbalik dengan kondisi di lapangan.
Warganet langsung merespons melalui berbagai platform media sosial. Banyak yang menilai pernyataan itu tidak sesuai fakta dan “terlalu muluk”, sehingga menjadi bahan guyonan sekaligus kritik.
Beberapa komentar warganet menyebut:
-
“Mungkin listrik yang bagus itu di hotel tempat pejabat nginap.”
-
“Coba tinggal seminggu di kampung kami, baru tau yang sebenarnya.”
-
“Investasi apa kalau listrik saja mati tiap hari?”
Reaksi tersebut menunjukkan adanya jurang persepsi antara pemerintah pusat dan masyarakat Aceh mengenai realitas pasokan listrik.

Baca juga: Bantuan banjir Sabang Perkuat Misi Kemanusiaan Aceh
PLN Akui Ada Gangguan, Janji Perbaikan
Sementara itu, pihak PLN Unit Induk Wilayah Aceh mengakui bahwa belakangan ini memang terjadi gangguan pada sistem kelistrikan. Gangguan tersebut dipicu faktor cuaca ekstrem, gangguan transmisi, hingga pemeliharaan rutin yang tidak dapat dihindari.
PLN berjanji akan melakukan percepatan perbaikan, termasuk:
-
Penguatan jaringan transmisi
-
Penambahan unit pembangkit cadangan di beberapa titik
-
Pemangkasan pohon yang berpotensi mengganggu jaringan
-
Peningkatan layanan pengaduan pelanggan
“Kami sedang melakukan pembenahan secara bertahap. Targetnya stabilitas pasokan listrik akan meningkat signifikan dalam beberapa bulan ke depan,” ujar seorang pejabat PLN Aceh.
Pelaku Usaha Merasa Dirugikan
Sektor UMKM menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya. Banyak usaha rumahan mengeluh omzet turun, karena aktivitas produksi terhambat oleh pemadaman.
Selain itu, industri besar seperti perikanan, cold storage, dan manufaktur juga turut terkena imbas, terutama berkaitan dengan pasokan listrik yang tidak stabil.
Beberapa asosiasi pelaku usaha di Aceh meminta PLN dan pemerintah mempercepat pembangunan infrastruktur kelistrikan, karena kestabilan energi adalah faktor utama menarik investasi.
Masyarakat Minta Pemerintah Turun Tangan
Melihat kondisi yang tak kunjung membaik, warga berharap pemerintah pusat maupun daerah tidak hanya memberi pernyataan optimistis, tetapi mengambil langkah konkret.
“Kami butuh listrik yang stabil, bukan sekadar janji. Kalau listrik beres, semua sektor akan ikut bergerak,” ujar seorang masyarakat di Kabupaten Aceh Utara.











