Aceh – Keberadaan aliran sesat kembali mengusik ketenteraman masyarakat Aceh. Kali ini, aparat menemukan aktivitas penyebaran ajaran Millah Abraham, sebuah aliran yang telah lama dinyatakan menyimpang oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI), kembali muncul di sejumlah wilayah Aceh.
Yang mengejutkan, para penganut aliran ini ternyata menerima bayaran sebesar Rp 300 ribu setiap kali melakukan dakwah atau perekrutan anggota baru. Informasi ini terungkap dari hasil penyelidikan aparat keamanan dan laporan masyarakat setempat.
“Kami temukan indikasi kuat bahwa penyebaran aliran ini tidak hanya bersifat ideologis, tapi juga dimotivasi oleh imbalan finansial. Setiap kali mereka menggelar kegiatan dakwah atau diskusi tertutup, mereka menerima bayaran,” ungkap salah satu sumber dari Satpol PP dan WH (Wilayatul Hisbah) Aceh, Kamis (7/8/2025).
Mengincar Komunitas Marjinal dan Kurang Pemahaman Agama
Menurut hasil temuan lapangan, para penganut aliran Millah Abraham kerap menyasar komunitas masyarakat miskin, pedalaman, dan mereka yang memiliki pemahaman agama terbatas. Dengan pendekatan santai dan narasi toleransi agama yang menyesatkan, mereka berusaha mengaburkan batas-batas antara ajaran Islam dan keyakinan lain.
“Mereka menyampaikan doktrin-doktrin yang membingungkan, mencampurkan dalil agama dan logika bebas. Inilah yang membuat masyarakat awam bisa terjebak,” ujar Ustaz Fakhrurrazi, tokoh agama Aceh.
Baca juga: Polres Pidie Bongkar Praktik Pengoplosan Beras, Satu Pelaku Ditangkap
Majelis Permusyawaratan Ulama dan Pemerintah Daerah Ambil Sikap
Menanggapi penyebaran aliran menyimpang ini, Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh bersama instansi terkait langsung turun tangan.
“Kami sudah mengeluarkan fatwa sejak lama bahwa aliran Millah Abraham adalah sesat. Kami minta masyarakat berhati-hati dan segera melapor jika menemukan aktivitas mencurigakan,” tegas perwakilan MPU Aceh, Tgk. H. Muslim Ibrahim.
Imbauan untuk Masyarakat: Waspada dan Laporkan
“Jangan sampai uang Rp 300 ribu menggadaikan iman kita,” tutur Ustaz Fakhrurrazi mengingatkan.
Hingga kini, proses identifikasi jaringan aliran ini masih terus dilakukan. Pemerintah memastikan akan bertindak tegas namun tetap mengedepankan pendekatan persuasif dan edukatif dalam menangani kasus-kasus semacam ini.











